<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Menuju Harapan</title>
	<atom:link href="http://ponsen.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ponsen.wordpress.com</link>
	<description>harapan umat manusia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 03 Sep 2008 11:47:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ponsen.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Menuju Harapan</title>
		<link>http://ponsen.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ponsen.wordpress.com/osd.xml" title="Menuju Harapan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ponsen.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Selamat Datang Bulan Ramadhan . . .</title>
		<link>http://ponsen.wordpress.com/2008/09/03/selamat-datang-bulan-ramadhan/</link>
		<comments>http://ponsen.wordpress.com/2008/09/03/selamat-datang-bulan-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Sep 2008 11:42:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ponsensindu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ponsen.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Ramadhan: Bulan Mengendalikan Hawa Nafsu Biasanya, sering kita mengatakan atau mendengar bahwa shaum berfungsi untuk menundukkan hawa nafsu jelek kita. Namun, yang dimaksud sekadar menahan nafsu makan dan minum, tidak berbohong, tidak bertengkar, tidak meng-gîbah, atau aktivitas lain yang bersifat moralitas semata. Kalaupun faktanya demikian maka sebenarnya telah terjadi penyempitan makna dari menundukkan hawa nafsu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ponsen.wordpress.com&amp;blog=3860865&amp;post=23&amp;subd=ponsen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ramadhan: Bulan Mengendalikan Hawa Nafsu</strong></p>
<p>Biasanya, sering kita mengatakan atau mendengar bahwa shaum berfungsi untuk menundukkan hawa nafsu jelek kita. Namun, yang dimaksud sekadar menahan nafsu makan dan minum, tidak berbohong, tidak bertengkar, tidak meng-<em>gîbah</em>, atau aktivitas lain yang bersifat moralitas semata. Kalaupun faktanya demikian maka sebenarnya telah terjadi penyempitan makna dari menundukkan hawa nafsu itu sendiri. Allah SWT berfirman:</p>
<p><span style="font-size:18pt;font-family:traditional arabic;">وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى</span><strong><span style="font-size:18pt;"> </span><span style="font-size:18pt;"> </span></strong><span style="font-size:18pt;font-family:traditional arabic;">إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوحَى</span></p>
<p style="text-align:left;"><em>Tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran dan al-Hadist) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).</em> (QS an-Najm [53]: 3-4).</p>
<p>Dalam ayat di atas, Allah SWT secara tegas menjelaskan bahwa hawa nafsu dan wahyu saling berbeda. Hawa nafsu adalah segala bentuk dorongan yang berasal dari dalam diri manusia. Oleh karena itu, hawa nafsu tidak hanya terbatas pada aspek moralitas saja, melainkan menyangkut seluruh dorongan ada dalam diri manusia yang mewujud dalam seluruh aktivitas. Sebaliknya, wahyu adalah sesuatu yang diwahyukan oleh Allah kepada Rasulullah saw. berupa perintah dan larangan. Wahyu ini yang harus mengendalikan hawa nafsu manusia. Jika hawa nafsu manusia tidak dibimbing wahyu, ia akan cenderung pada keburukan.</p>
<p>Karena itu, ketika bulan Ramadhan dikatakan sebagai bulan menundukkan hawa nafsu, maka yang seharusnya terbayang dalam benak kita adalah kita mencampakkan dan membuang jauh-jauh seluruh aktivitas yang dilarang oleh Allah SWT. Selain kita meninggalkan meng-gîbah orang lain, kita juga harus meninggalkan upaya mempraktikkan apalagi mempropagandakan sekularisme, literalisme, pluralisme, feminisme, sinkretisme (penyamaan semua agama), kapitalisme, pornografi, dan paham-paham sesat lainnya; kita juga harus menghentikan kezaliman terhadap rakyat seperti menaikan harga BBM yang sebenarnya tidak rasional; kita juga harus meninggalkan aktivitas menghalang-halangi atau bahkan menfitnah agama dan dakwah Islam.</p>
<p>Kita pun harus berusaha untuk tidak melakukan praktik riba, bermuamalah secara kapitalistik, berpolitik maciavelis, bernegara tanpa undang-undang yang dilandasi al-Quran dan al-Hadist, mempertahankan sistem aturan manusia, berinteraksi dalam masyarakat tanpa patokan-patokan sistem sosial kemasyarakatan yang islami, serta menjalani seluruh kehidupan tanpa syariat Islam. Semua itu harus kita tinggalkan sebagaimana kita berusaha untuk meninggalkan sifat iri, dengki, sombong, takabur dan seluruh sifat jelek lainnya.</p>
<p>Selanjutnya kita harus bergiat diri dan bersemangat untuk bersama-sama, bahu-membahu, dan terlibat aktif dalam menjalankan roda dakwah; menyeru penguasa yang zalim untuk bersegera menerapkan syariat Islam; menyeru masyarakat untuk bersegera terikat dengan syariah. Bukan sebaliknya, rakyat dinasihati supaya sabar menghadapi kesulitan hidup, sementara penguasa yang menyebabkan kesulitan hidup rakyatnya malah dibiarkan. Ramadhan mengharuskan kaum Muslim terikat dengan aturan Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:</p>
<p style="text-align:right;font-family:traditional arabic;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE AR-SA              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                                      &lt;![endif]--> <!--[if gte mso 10]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:31.5pt;line-height:130%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:18pt;line-height:130%;font-family:traditional arabic;">وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ اْلإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ</span></p>
<p><em>Siapa saja yang menjadikan selain Islam sebagai dîn (agama, sistem hidup) maka tidak akan diterima apapun darinya serta dia di akhirat termasuk orang yang merugi.</em> (<strong>QS Ali Imran [3]: 85</strong>).</p>
<p>Allah SWT juga berfirman:</p>
<p style="text-align:right;font-family:traditional arabic;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE AR-SA              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                                      &lt;![endif]--> <!--[if gte mso 10]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:31.5pt;line-height:130%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:18pt;line-height:130%;font-family:traditional arabic;">أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ</span></p>
<p><em>Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki. Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah?</em> (<strong>QS al-Maidah [5]: 50</strong>)</p>
<p>Dari dua ayat di atas tampak jelas bahwa kita diminta untuk berhukum pada apa saja yang telah disyariatkan oleh Allah SWT melalui al-Quran dan al-Hadist; bukan sepotong-sepotong, tetapi seluruhnya. Itulah hakikat sebenarnya dari upaya menundukkan hawa nafsu. Apabila kita telah mampu menundukkan hawa nafsu sebagai wujud dari puasa kita, kita akan menjadi insya Allah manusia yang benar-benar bertakwa, sebagaimana firman Allah-Nya:</p>
<p style="text-align:right;font-family:traditional arabic;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE AR-SA              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                                      &lt;![endif]--> <!--[if gte mso 10]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:31.5pt;line-height:130%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:18pt;line-height:130%;font-family:traditional arabic;">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</span></p>
<p><em>Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana puasa itu diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa. </em>(<strong>QS al-Baqarah [2] 183</strong>).</p>
<p><strong>Ramadhan Bulan Utama</strong></p>
<p>Memang benar, bulan Ramadhan adalah bulan yang setiap detik, menit, jam, dan hari-harinya penuh dengan keutamaan. Keutamaan-keutamaan tersebut antara lain, <em>Pertama</em>: Ramadhan membentuk pribadi Mukmin yang taat secara total kepada Allah SWT dan Rasulullah saw. dalam seluruh perkara yang diperintahkan ataupun yang dilarang-Nya. Tidak ada keraguan di dalam hatinya untuk menjalankan Islam secara <em>kâffah</em> (menyeluruh), baik dalam hal akidah maupun hukum-hukum yang lain seperti: hukum ibadah, makanan, minuman, pakaian, sosial, politik, ekonomi, budaya, pemerintahan, dan lain sebagainya. Mereka siap untuk mengikuti wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. dengan ikhlas dan tawakal.</p>
<p><em>Kedua:</em> Di sisi lain, pada bulan Ramadhan, Allah SWT menurunkan wahyu berupa al-Quran pertama kali. Wahyu inilah yang merupakan sumber hukum untuk dijadikan pemimpin dan pemandu kehidupan. Dengan tegas, Allah SWT berfirman:</p>
<p style="text-align:right;font-family:traditional arabic;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE AR-SA              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                                      &lt;![endif]--> <!--[if gte mso 10]&gt;--></p>
<p class="NormalAssalaam" style="text-align:justify;text-indent:31.5pt;line-height:130%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:18pt;line-height:130%;font-family:traditional arabic;">شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ</span></p>
<p style="text-align:left;"><em>Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk (hudan) bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu (bayyinat) dan pembeda (furqân) (antara haq dan batil).</em> (<strong>QS al-Baqarah [2]: 185</strong>).</p>
<p>Ayat ini menjelaskan, bahwa al-Quran diturunkan oleh Allah SWT sebagai petunjuk bagi umat manusia yang mengimaninya; dalil yang jelas dan tegas bagi mereka yang memahaminya, yang terlepas dari kebatilan dan kesesatan; juga merupakan pembeda antara yang haq dan batil, halal dan haram (Lihat: <em>Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, I/269</em>).</p>
<p>Al-Quran bukan kumpulan pengetahuan semata, tetapi juga petunjuk hidup bagi manusia. Al-Quran tidak hanya sekadar dibaca dan dihapalkan saja, melainkan harus dipahami dan diamalkan isinya dalam kehidupan sehari-hari. Nabi saw. dalam berbagai hadisnya menegaskan, bahwa siapapun yang berpegang pada al-Quran dan as-Sunnah tidak akan tersesat selama-lamanya. Allah SWT berfirman:</p>
<p style="text-align:right;font-family:traditional arabic;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE AR-SA              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                                      &lt;![endif]--> <!--[if gte mso 10]&gt;--></p>
<p class="NormalAssalaam" style="text-align:justify;text-indent:31.5pt;line-height:130%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:18pt;line-height:130%;font-family:traditional arabic;">وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا</span></p>
<p><em>Apa saja yang diperintahkan oleh Rasul, ambillah; apa saja yang dilarang olehnya, tinggalkanlah!</em> (<strong>QS al-Hasyr [59]: 7</strong>).</p>
<p>Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa setiap perintah yang terdapat dalam al-Quran mutlak harus dilaksanakan, dan setiap larangannya harus ditinggalkan, baik terasa berat maupun terasa ringan. Yang tertanam dalam hati dan pikiran adalah, “Kami mendengar dan kami patuhi!” Alangkah ruginya orang yang memahami al-Quran tetapi tidak mengamalkannya. Demikian juga bagi orang yang senantiasa menyerukan Islam namun tidak menjalankan. Apalagi bagi orang yang menjadikan al-Quran sebagai ‘barang dagangan’, suka memelintir pemahaman di dalamnya, bahkan mengatakan al-Quran penuh dengan mitos dan buatan Muhammad. Sungguh, orang tersebut bukan hanya merugi, namun juga dilaknat oleh Allah. Jadi, pada bulan Ramadhan Allah SWT bukan sekadar memerintahkan kita berpuasa supaya kita bertakwa, tetapi juga menurunkan al-Quran sebagai sumber aturan untuk mencapai ketakwaan .</p>
<p><em>Ketiga: </em>Allah sungguh Mahaadil, Mahabijaksana, dan Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Dalam bulan Ramadhan pintu ampunan dibuka oleh Allah selebar-lebarnya, setan-setan dibelenggu agar tidak bisa menggoda manusia untuk berbuat mungkar, pintu-pintu surga dibuka lebar-lebar, dan berbagai kenikmatan Allah dicurahkan. Dalam bulan ini juga terdapat satu malam yang lebih baik daripada 1000 bulan. Itulah malam Lailatul Qadar. Pada malam tersebut untuk pertama kalinya diturunkan al-Quran kepada Rasulullah saw. sebagai petunjuk hidup bagi seluruh umat manusia; bukan hanya bagi kaum Muslim saja, tetapi juga berlaku bagi umat selain Islam. Itulah tanda <em>rahmatan lil ‘alamin</em>-nya Islam.</p>
<p><strong>Wahai kaum Muslim:</strong> Bulan Ramadhan adalah bulan untuk melakukan ketaatan kepada Allah. Sudahkah kita menaati Allah SWT secara total? Ataukah kita masih tetap membiarkan hidup kita diatur oleh logika dan hawa nafsu kita? Relakah Ramadhan hanya merupakan ajang menahan lapar dan haus belaka? <em>Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb.</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ponsen.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ponsen.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ponsen.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ponsen.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ponsen.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ponsen.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ponsen.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ponsen.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ponsen.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ponsen.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ponsen.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ponsen.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ponsen.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ponsen.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ponsen.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ponsen.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ponsen.wordpress.com&amp;blog=3860865&amp;post=23&amp;subd=ponsen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ponsen.wordpress.com/2008/09/03/selamat-datang-bulan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8164540978ecefa6f10714eb8e81d26e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ponsensindu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sesatnya Jaringan I&#8230; Liberal !!!</title>
		<link>http://ponsen.wordpress.com/2008/08/24/sesatnya-jaringan-i-liberal/</link>
		<comments>http://ponsen.wordpress.com/2008/08/24/sesatnya-jaringan-i-liberal/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 17:32:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ponsensindu</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ponsen.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Munculnya kelompok liberal di Indonesia diangap sebagai tanggapan otentik dalam mengapresiasi gagasan-gagasan liberalisme Barat. Kelompok liberal ini berkembang menjadi jaringan yang siap menjalar ke seluruh daerah dan ke setiap bagian tubuh kaum Muslim di Indonesia. Ibarat sel kanker, kelompok ini telah tumbuh membentuk jaringan yang siap menjangkiti seluruh tubuh kaum Muslim. Tulisan ini akan mengurai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ponsen.wordpress.com&amp;blog=3860865&amp;post=20&amp;subd=ponsen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 10]&gt;--></p>
<div class="Section1">
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Munculnya kelompok liberal di Indonesia diangap sebagai tanggapan otentik dalam mengapresiasi gagasan-gagasan liberalisme Barat. Kelompok liberal ini berkembang menjadi jaringan yang siap menjalar ke seluruh daerah dan ke setiap bagian tubuh kaum Muslim di Indonesia.<span> </span>Ibarat sel kanker, kelompok ini telah tumbuh membentuk jaringan yang siap menjangkiti seluruh tubuh kaum Muslim. Tulisan ini akan mengurai beberapa keganjilan metodologi kelompok liberal itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Verdana;">Ideologi Kapitalisme Sekular Sebagai Pijakan</span></strong></p>
</div>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Satu hal yang menonjol dari kelompok liberal adalah keyakinan mereka atas ideologi kapitalis yang berpangkal pada akidah sekularisme. Menurut Luthfi Assyaukanie, kontributor JIL, dengan sekularisme—istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh George Jacob Holyoake (1817-1906)—masing-masing agama dan negara memiliki otoritas sendiri-sendiri: negara mengurusi politik sedangkan agama mengurusi gereja.<a name="_ednref1" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/12/kritik-terhadap-metodologi-kelompok-liberal/#_edn1"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[1]</span><!--[endif]--></span></a><span> </span>Jadi, sekularisme intinya adalah pemisahan agama dari kehidupan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Dari akidah ini lahir ide liberalisme (kebebasan: kebebasan beragama [<em>freedom of bilief</em>]; kebebasan berpendapat [<em>freedom of opinion</em>]; kebebasan kepemilikan [<em>freedom of awnership</em>]; dan kebebasan berperilaku/berekspresi [<em>personal freedom</em>]), pluralisme, relativitas kebenaran, dan sebagainya. Akidah ini juga memberikan landasan pada demokrasi dan sistem Kapitalisme.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Keyakinan mereka atas sekularisme dengan seluruh pemikiran turunannya itu dapat kita lihat secara jelas dari ungkapan mereka sendiri. Di antara misi Jaringan mereka (JIL) adalah mengembangkan penafsiran Islam yang liberal sesuai dengan prinsip-prinsip yang mereka anut. Di antaranya: mereka mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka, dan plural (pluralisme); meyakini kebebasan beragama; memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik. Mereka yakin bahwa kekuasaan keagamaan dan politik harus dipisahkan dan bentuk negara yang sehat bagi kehidupan agama dan politik adalah negara yang memisahkan kedua wewenang tersebut. Agama adalah sumber inspirasi yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, tetapi agama tidak punya hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Agama berada di ruang privat dan urusan publik harus diselenggarakan melalui proses konsensus—demokrasi.<a name="_ednref2" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/12/kritik-terhadap-metodologi-kelompok-liberal/#_edn2"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[2]</span><!--[endif]--></span></a><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Bagi kelompok liberal, sekularisme sudah menjadi keyakinan (<em>qanâ‘ah</em>) yang mereka yakini kebenarannya.<span> </span>Tampak jelas bahwa mereka telah menjadikan sekularisme dan ideologi Kapitalisme sebagai pijakan.<span> </span>Kenyataan ini sungguh bertolak belakang dengan ciri seorang Muslim. Seorang Muslim sejatinya meyakini kebenaran akidah Islam berikut <span> </span>sistemnya dan menjadikannya sebagai pijakan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"><strong>Menilai Islam dengan Pandangan Barat</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Sebagai keyakinan mereka, sekularisme mereka fungsikan sebagai standar (<em>maqâyis</em>), yakni sebagai standar untuk menilai dan menimbang ide, konsep, dan pemikiran yang lain. Terhadap ide, konsep, dan pemikiran Islam, maka mereka menilainya dengan standar sekularisme dan ide-ide turunannya itu.<span> </span>Mereka menafsirkan teks-teks syariat dengan standar sekularisme-liberalisme.<span> </span>Tidak aneh jika mereka kemudian menggagas metode penafsiran liberal, pluralis, kontekstual, dan sebutan lainnya; yang pada intinya adalah menafsirkan teks dengan standar sekularisme dan turunannya.<span> </span>Misalnya, Allah Swt. berfirman: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span dir="ltr"><span>]</span></span><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;">لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ</span><span style="font-size:16pt;" dir="ltr"><span>[</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"><em>Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).</em> (<strong>QS al-Baqarah [2]: 256</strong>).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span dir="rtl" lang="AR-SA"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Ayat di atas mereka tafsirkan dengan ‘kebebasan beragama’. </span><span style="font-family:Verdana;">Artinya, siapapun berhak memilih agama apapun, bahkan untuk tidak beragama sekalipun; juga bahwa seorang Muslim berhak untuk pindah agama, karena setiap orang bebas untuk memilih keyakinannya sendiri.<span> </span>Padahal ayat tersebut hanya menjelaskan tidak bolehnya kita memaksa non-Muslim agar masuk Islam, tidak lebih.<span> </span>Penafsiran mereka itu muncul tidak lain karena mereka telah meyakini kebebasan beragama khas ideologi Kapitalisme sekular.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Ulil Abshor Abdalla, koordinaor JIL, juga pernah menyatakan bahwa Muhammad saw. bukan hanya seorang nabi dan rasul, tetapi juga seorang politikus, namun kebijakan beliau tidak harus ditiru. Ia beralasan, “Bagaimanapun contoh Nabi saw. di Madinah sangat dikondisikan oleh konteks sosial dan sejarah yang spesifik pada saat itu.”</span><a name="_ednref3" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/12/kritik-terhadap-metodologi-kelompok-liberal/#_edn3"><span style="font-family:Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[3]</span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-family:Verdana;"> <span lang="SV">Kesimpulan Ulil ini adalah kesimpulan khas sekularisme, yang ‘mengharamkan’ agama berperan formal di ruang publik.<span> </span>Perbuatan dan kebijakan Nabi saw. dalam wilayah publik tidak dianggap sebagai bagian dari tuntunan kenabian yang bersumber dari wahyu, tetapi hanya dianggap sebagai buah kejeniusan beliau.<span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Verdana;">Fakta dan Sejarah Sebagai Sumber Hukum</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Yang tidak kalah ganjilnya adalah metode berpikir mereka yang menjadikan fakta dan sejarah sebagai sumber hukum.<span> </span>Menurut mereka, fakta dan sejarah adalah faktor determinan yang menentukan hukum.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Ini jelas keliru dan sekaligus secara telanjang menunjukkan pola berpikir Barat yang mereka gunakan dalam memandang kaitan fakta dengan hukum. Sebab, dalam falsafah hukum Barat, realitas sosial masyarakat dipandang sebagai ‘ibu kandung’ yang melahirkan nilai dan norma hukum. Salah satu prinsip falsafah hukum Barat adalah: undang-undang adalah anak kandung yang lahir dari situasi dan kondisi sosial masyarakat.</span><a name="_ednref4" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/12/kritik-terhadap-metodologi-kelompok-liberal/#_edn4"><span style="font-family:Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[4]</span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Inti pandangan mereka adalah mengembalikan hukum pada akal manusia.<span> </span>Padahal keputusan akal tidak pernah permanen. Jika hukum dikembalikan pada akal, akan lahir sekian banyak hukum yang bertentangan satu sama lain. Pandangan akal sangat bergantung pada faktor waktu, tempat, pengetahuan, kedewasaan, watak, lingkungan, emosi, dan lain sebagainya. Penilaian akal bisa bertentangan antara satu orang dengan yang lain, antar tempat dan masa. Di samping itu, akal tidak bisa menjangkau pahala dan siksa akhirat. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Semestinya, fakta dan sejarah harus dijadikan obyek yang akan dinilai dan dihukumi dengan standar baku dan benar yang berasal dari Allah.<span> </span>Di sinilah Allah memerintahkan kita untuk menghukumi sesuatu (fakta sosial dan sejarah) dengan apa yang diturunkan-Nya (QS al-Maidah [5]: 48). Artinya, Allah memerintahkan kita menjadikan wahyu (al-Quran dan as-Sunah) sebagai sumber hukum (<em>mashdar al-hukm</em>) dan menjadikan fakta sosial dan sejarah sebagai obyek yang dihukumi (<em>manâth al-hukm</em>).<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Verdana;">Menolak Syariat, Tetapi Mencari Pembenaran Lewat Syariat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Dalam upaya mereka menolak syariat, tidak jarang mereka mencari pembenaran lewat syariat, yaitu dengan mengutip teks syariat dan ucapan para ulama, termasuk kaidah ushul fikih, namun setelah mereka pelintir, untuk mendukung dan membenarkan pendapat mereka.<span> </span>Deny JA menunjukkan semangat ini. “Oleh karenanya, sudah saatnya kita mengembangkan satu teologi negara sekular demokratis yang langsung mendapat justifikasi dari prinsip-prinsip Islam.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Sikap seperti ini ‘terpaksa’ harus ditempuh karena yang menjadi target adalah kaum Muslim yang masih merujuk pada syariat. Jika tidak menggunakan pembenaran lewat syariat, ide-ide mereka akan tertolak, bahkan sebelum menyentuh sasaran. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Verdana;">Sering Stereotip dan Tidak Adil dalam Menilai Islam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Mereka meyakini ide pluralisme bahwa semua agama adalah benar, artinya juga semua syariat agama-agama itu adalah benar. Akan tetapi, mereka sering mengecualikan Islam dan syariatnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Luthfi Assyaukanie, ketika membela sekularisme menulis, “Alangkah tidak fair jika kita mengecam sekularisme semata-mata karena kita merujuk pada praktik sekularisme yang salah.” Di sisi lain kita dapati mereka selalu menggunakan penerapan Islam yang buruk/salah (<em>isâ’ah at-tathbîq al-islâm</em>) sebagai alasan mengecam syariat Islam. Semestinya<span> </span>sebuah konsep/ide dinilai dari konsepsi ideal yang bersumber dari rujukan sahnya.<span> </span>Masalahnya, hal ini tidak bisa dilakukan terhadap sekularisme, karena sangat sulit menunjuk secara tegas konsepsi ideal sekularisme, karena ketiadaan sumber rujukan sah atas itu.<span> </span>Sebaliknya, kita akan sangat mudah menunjuk konsepsi ideal dan sumber rujukan Islam yang sah, yaitu al-Quran dan as-Sunnah.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Begitu juga tuduhan mereka yang mengecam penafsiran literal atas teks dan lebih mengedepankan penafsiran kontekstual. Akan tetapi, tidak jarang pula mereka menggunakan penafsiran literal teks jika sekiranya itu bisa dipelintir untuk mendukung pendapat liberal mereka.<span> </span>Ambil contoh penolakan mereka akan Daulah Islam hanya karena dalam al-Quran tidak ada kata dawlah (negara)—sebuah alasan yang sangat literal/tekstual.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Verdana;">Sering Memelintir Teks dan Pendapat Para Ulama </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Kelompok liberal sering mengutip teks atau pendapat ulama, yang telah mereka pelintir maknanya agar sesuai dengan ide sekularisme yang mereka yakini. Misal, mereka sering mengutip <em>maqâshid asy-syarî‘ah</em>-nya Imam asy-Syathibi, tetapi mereka pelintir maknanya. Pemeliharaan <span> </span>mereka maknai dengan kebebasan. <em>Hifzh al-‘aql</em> (pemeliharaan akal) mereka maknai dengan kebebasan berpendapat, <em>hifzh ad-dîn</em> (pemeliharaan agama) mereka artikan dengan kebebasan beragama, <em>hifzh al-mâl</em> (pemeliharaan harta) mereka samakan dengan kebebasan kepemilikan, <em>hifzh al-‘irdh</em> (penjagaan kehormatan) mereka maknai dengan kebebasan individu.<span> </span>Walhasil, Imam asy-Syathibi dan <em>maqâshid asy-syarî’ah</em>-nya hanya mereka catut untuk medukung pendapat sekular-liberal mereka. Agaknya, bukan hanya asy-Syathibi yang mereka perlakukan demikian.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Begitu pula mereka sering mengutip ungkapan <em>ad-dîn wâhid wa asy-syarî’ah mukhtalifah</em> (agama itu satu, sedangkan syariat beragam) yang mereka katakan pendapat Ibn ‘Aqil dan dikutip ath-Thabari. Pendapat itu mereka gunakan untuk menolak syariat dan membenarkan pendapat mereka yang liberal dan plural.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Imam ath-Thabari mengutip ungkapan itu bukan dari Ibn Aqil, tetapi dari Ma‘mar yang menuturkan ungkapan Qatadah dalam menafsirkan surat al-Maidah ayat 48: Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami memberikan syariat dan jalan yang terang.</span><a name="_ednref5" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/12/kritik-terhadap-metodologi-kelompok-liberal/#_edn5"><span style="font-family:Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[5]</span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-family:Verdana;"><span> </span>Ibn Abi Hatim dan Abu Syaikh menuturkan dari Qatadah maksud tafsir ayat tersebut: Maksudnya adalah jalan dan sunnah-sunnah—bagi Taurat ada syariat, bagi Injil (ada syariat bagi) orang yang menaatinya dan yang bermaksiyat. Akan tetapi, agama adalah satu, yang hanya menerima tauhid dan ikhlas, inilah yang dibawa oleh Rasul.</span><a name="_ednref6" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/12/kritik-terhadap-metodologi-kelompok-liberal/#_edn6"><span style="font-family:Verdana;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">[6]</span><!--[endif]--></span></span></a><span style="font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Maksud ayat tersebut memberitahu kita bahwa bagi setiap agama samawi, Allah memberikan syariat yang tidak sama. Akan tetapi, dalam nash-nash lain dijelaskan bahwa sejak Muhammad diutus, syariat selain Islam sudah tidak berlaku lagi dan tidak akan diterima di sisi Allah. Hanya syariat Islamlah yang berlaku dan diterima di sisi Allah. (QS Ali Imran [3]: 85).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Verdana;">Menjadi Perpanjangan Tangan Barat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Melihat kemiripan ide, konsep, dan perjuangan kelompok liberal, hal itu menyiratkan bahwa mereka tidak lebih merupakan perpanjangan tangan dan aktor yang disutradari oleh Barat.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;">Proyek Barat sebelumnya untuk mengobok-obok dan menyimpangkan Islam tidak berhasil gemilang. Sebab, <span> </span>aktornya adalah kalangan Barat sendiri yang notabene non-Muslim. Akibatnya, <span> </span>ide dan konsep mereka sulit memasuki ruang pemikiran kaum Muslim. Di sinilah sesungguhnya posisi kelompok liberal itu, yakni untuk melempangkan jalan Barat untuk mempengaruhi kaum Muslim, baik mereka sadar atau tidak. Misi mereka sudah barang tentu mem-Barat-kan kaum Muslim. <span> </span></span><span style="font-family:Verdana;"><em>Wallâh a’lam bi ash-shawâb</em>. </span></p>
<div><!--[if !supportEndnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="edn1">
<p class="MsoEndnoteText" style="margin-left:11.35pt;text-align:justify;text-indent:-11.35pt;"><a name="_edn1" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/12/kritik-terhadap-metodologi-kelompok-liberal/#_ednref1"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:8pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:8pt;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;"> <span> </span><em>Islamlib.com</em>, editorial 11/04/2005, Luthfi Assyaukanie, “<em>Berkah Sekulerisme</em>”</span></p>
</div>
<div id="edn2">
<p class="MsoEndnoteText" style="margin-left:11.35pt;text-indent:-11.35pt;"><a name="_edn2" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/12/kritik-terhadap-metodologi-kelompok-liberal/#_ednref2"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:8pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:8pt;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;"> <span> </span>Lihat: <em>Islamlib.com</em>.</span></p>
</div>
<div id="edn3">
<p class="MsoEndnoteText" style="margin-left:11.35pt;text-indent:-11.35pt;"><a name="_edn3" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/12/kritik-terhadap-metodologi-kelompok-liberal/#_ednref3"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:8pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:8pt;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;"> <span> </span>Lihat: Ulil Abshar Abdalla, “Muhamamd: Nabi dan Politikus,” <em>Media Indonesia</em>,<em> </em>4/5//2004, hlm. 1</span>.</p>
</div>
<div id="edn4">
<p class="MsoEndnoteText" style="margin-left:11.35pt;text-indent:-11.35pt;"><a name="_edn4" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/12/kritik-terhadap-metodologi-kelompok-liberal/#_ednref4"><span class="MsoEndnoteReference"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></span></a> <span> </span><span style="font-size:8pt;">Mufti &amp; Al-Wakil, <em>At-Tasyrî’ wa Sann al-Qawanîn fi ad-Dawlah al-Islâmiyyah</em>, hlm. 10, 1992</span></p>
</div>
<div id="edn5">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:11.35pt;text-align:justify;text-indent:-11.35pt;"><a name="_edn5" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/12/kritik-terhadap-metodologi-kelompok-liberal/#_ednref5"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:8pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:8pt;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;"> <span> </span>Imam ath-Thabari, <em>Tafsîr ath-Thabari</em>, vi/270, Dar al-Fikr, Beirut. 1405; Ibn al-Manzhur, <em>Lisân al’Arab</em>, viii/176, Dar al-Fikr, Beirut; Abd ar-Razaq Humam ash-Shan’ani, <em>Tafsîr ash-Shan’ani</em>, ed. Dr. Mushthafa Muslim Muhamamd, i/192, Maktabah ar-Rusyd, Riyadh, cet I. 1410</span>.</p>
</div>
<div id="edn6">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:11.35pt;text-indent:-11.35pt;"><a name="_edn6" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/12/kritik-terhadap-metodologi-kelompok-liberal/#_ednref6"><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:8pt;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoEndnoteReference"><span style="font-size:8pt;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a><span style="font-size:8pt;"> <span> </span>As-Suyuthi, <em>ad-Durr al-Mantsûr</em>, iii/96, Dar al-Fikr, Beirut. 1993</span>.</p>
</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ponsen.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ponsen.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ponsen.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ponsen.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ponsen.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ponsen.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ponsen.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ponsen.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ponsen.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ponsen.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ponsen.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ponsen.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ponsen.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ponsen.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ponsen.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ponsen.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ponsen.wordpress.com&amp;blog=3860865&amp;post=20&amp;subd=ponsen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ponsen.wordpress.com/2008/08/24/sesatnya-jaringan-i-liberal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8164540978ecefa6f10714eb8e81d26e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ponsensindu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jangan Dulu Taat pada Penguasa, kecuali &#8230;</title>
		<link>http://ponsen.wordpress.com/2008/08/24/jangan-dulu-taat-pada-penguasa-kecuali/</link>
		<comments>http://ponsen.wordpress.com/2008/08/24/jangan-dulu-taat-pada-penguasa-kecuali/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Aug 2008 17:28:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ponsensindu</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ponsen.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Mentaati penguasa merupakan salah satu kewajiban seorang Muslim. Allah swt berfirman: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah RasulNya, dan ulil amri di antara kalian. Kemudian, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ponsen.wordpress.com&amp;blog=3860865&amp;post=17&amp;subd=ponsen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">Mentaati penguasa merupakan salah satu kewajiban seorang Muslim.<span> </span>Allah swt berfirman:</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;"> </span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:center;text-indent:0;line-height:130%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:130%;font-weight:normal;">يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا</span></p>
<p><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;"><span> </span>“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah RasulNya, dan ulil amri di antara kalian.<span> </span>Kemudian, jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.<span> </span>Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.”</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;"> </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">[</span><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">TQS. </span><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">al-Nisaa’:59</span><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">Ketika menafsirkan surat al-Nisa’:59, Imam Nasafiy menyatakan: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:130%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:130%;">ودلت الآية على أن طاعة الأمراء واجبة إذا وافقوا الحق فإذا خالفوه فلا طاعة لهم لقوله عليه السلام ” لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق ” . وحكي أن مسلمة بن عبد الملك بن مروان قال لأبي حازم : ألستم أمرتم بطاعتنا بقوله : و«أولي الأمر منكم»؟ فقال أبو حازم : أليس قد نزعت الطاعة عنكم إذا خالفتم الحق . بقوله «فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله» أي القرآن و«الرسول» في حياته وإلى أحاديثه بعد وفاته { ذلك } إشارة إلى الرد أي الرد إلى الكتاب والسنة</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">“<em>Ayat ini menunjukkan bahwa taat kepada para pemimpin adalah wajib, jika mereka sejalan dengan kebenaran.<span> </span>Apabila ia berpaling dari kebenaran, maka tidak ada ketaatan bagi mereka.<span> </span>Ketetapan semacam ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw, “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiyatan kepada Allah.”</em>[HR. Ahmad].<span> </span><em>Dituturkan bahwa Maslamah bin Abdul Malik bin Marwan berkata kepada Abu Hazim,” Bukankah engkau diperintahkan untuk mentaati kami, sebagaimana firman Allah, “dan taatlah kepada ulil amri diantara kalian..”</em><span> </span><em>Ibnu Hazim menjawab, “Bukankah ketaatan akan tercabut dari anda, jika anda menyelisihi kebenaran, berdasarkan firman Allah,<strong> </strong>“jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah, yakni kepada<span> </span>Rasul pada saat beliau masih hidup, dan kepada hadits-hadits Rasul setelah beliau saw wafat..”</em><a name="_ftnref1" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[1]</span></span></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">Pendapat senada juga dikemukakan oleh al-Hafidz al-Suyuthi dalam kitab Tafsirnya, <em>al-Durr al-Mants</em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">û</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">r, </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">Imam Syaukani dalam <em>Fat<span style="text-decoration:underline;">h</span> al-Qad</em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">î</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">r</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">, dan serta kalangan mufassir lainnya.<span> </span>Ibnu al-‘Arabiy, dalam kitab <em>A<span style="text-decoration:underline;">h</span>k</em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">m al-Qur’</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">n, </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">menyatakan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">“<em>Kemudian mereka diperintahkan untuk mentaati pemimpin (ulil amri) yang telah diperintahkan oleh Rasulullah. Ketaatan kepada mereka bukanlah ketaatan mutlak, akan tetapi yang dikecualikan dalam hal ketaatan dan apa yang diwajibkan kepada mereka….”</em><a name="_ftnref2" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[2]</span></span></span></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">Dalam kitab <em>Minh</em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">j al-Sunnah</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">, Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyyah berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">“<em>Sesungguhnya, Nabi saw telah memerintahkan untuk taat kepada imam (pemimpin) legal yang memiliki kekuasaan, dan mampu mengatur urusan masyarakat.<span> </span>Tidak ada ketaatan bagi pemimpin yang tidak dikenal dan tidak legal.<span> </span>Tidak ada ketaatan bagi orang yang tidak memiliki kekuasaan dan tidak memiliki kemampuan apapun, secara asal. “<a name="_ftnref3" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10pt;">[3]</span></strong></span></span></span></a></em> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">Di dalam hadits-hadits shahih juga dituturkan mengenai kewajiban mentaati penguasa (<em>ulil amriy</em>), baik yang adil maupun fasik.<span> </span>Imam Bukhari menuturkan sebuah riwayat dari Abi Salamah bin ‘Abdirrahman, bahwasanya ia mendengar Abu Hurairah berkata:</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:130%;font-weight:normal;">مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ عَصَى أَمِيرِي فَقَدْ عَصَانِي</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;"><span> </span>“<em>Rasulullah saw telah bersabda</em>, “<em>Siapa saja yang mentaati aku, maka dia telah mentaati Allah swt, dan barang siapa bermaksiyat kepadaku, sungguh dia telah bermaksiyat kepada Allah.<span> </span>Siapa saja yang mentaati pemimpinku, maka dia telah mentaatiku; dan barangsiapa tidak taat kepada pemimpinku, maka dia telah berbuat maksiyat kepadaku..”</em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;"> </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">[</span><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">HR. Bukhari</span><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">]</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:130%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>Hisyam bin ‘Urwah meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ra, bahwasanya ia menyatakan, bahwa Rasulullah saw bersabda:</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:130%;">سَيَلِيْكُمْ بَعْدِي وُلَاةٌ فَيَلِيْكُمُ الْبِرَّ بِبِرِّهِ وَالْفَاجِرُ بِفُجُوْرِهِ فَاسْمَعُوْا لَهُمْ وَأَطِيْعُوْا فِي كُلِّ مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَصَلُّوْا وَرَاءَهُمْ فَإِنْ أَحْسَنُوْا فَلَكُمْ وَلَهُمْ وَإِنْ أًَسَاءُوْا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ</span><strong></strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:130%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span><span> </span>“<em>Setelahku akan ada para penguasa, maka yang baik akan memimpin kalian dengan kebaikannya, sedangkan yang jelek akan memimpin kalian dengan kejelekannya.<span> </span>Untuk itu, dengar dan taatilah mereka dalam segala urusan bila sesuai dengan yang haq.<span> </span>Apabila mereka berbuat baik, maka kebaikan itu adalah hak bagi kalian.<span> </span>Apabila mereka berbuat jelek maka kejelekan itu hak bagi kalian untuk mengingatkan mereka, serta kewajiban mereka untuk melaksanakannya.”</em></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:130%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>Imam Bukhari menuturkan sebuah hadits dari ‘Abdullah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda kepada kami:</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:130%;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:130%;">سَتَكُونُ أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ تُؤَدُّونَ الْحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الَّذِي لَكُمْ</span><strong></strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:130%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>“<em>Kalian akan melihat pada masa setelahku, ada suatu keadaan yang tidak disukai serta hal-hal yang kalian anggap mungkar.<span> </span>Mereka (para shahabat) bertanya, “Apa yang engkau perintahkan kepada kami, wahai Rasulullah?<span> </span>Beliau menjawab, “Tunaikanlah hak mereka, dan memohonlah kepada Allah hak kalian.”</em></span><em><span> </span></em><span>[</span><strong><span>HR. Bukhari</span></strong><span>]</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:130%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Abu Raja’, dari Ibnu ‘Abbas, dinyatakan, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:130%;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:130%;">مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنْ النَّاسِ خَرَجَ مِنْ السُّلْطَانِ شِبْرًا فَمَاتَ عَلَيْهِ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:130%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>“<em>Barangsiapa membenci sesuatu yang ada pada pemimpinnya, hendaklah ia bersabar.<span> </span>Sebab, tak seorangpun boleh memisahkan diri dari jama’ah, sekalipun hanya sejengkal, kemudian dia mati, maka matinya adalah seperti mati jahiliyyah</em>.”</span><span> </span><span>[<strong>HR. Bukhari</strong>]</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:130%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>Dalam <em>Syar<span style="text-decoration:underline;">h</span> an-Nawawi ‘al<span>â</span> Shahiih Muslim</em> telah dinyatakan, “<em>Memisahkan diri dari mereka —maksudnya, para penguasa— hukumnya jelas haram, berdasarkan ijma’ kaum Muslim, walaupun para penguasa itu orang yang fasik dan zalim. Banyak hadits yang menunjukkan pengertian seperti <span> </span>pendapat saya ini”</em>.<a name="_ftnref4" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[4]</span></span></span></span></a><span> </span></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:130%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span>Hadits-hadits di atas merupakan hujjah<span> </span>yang sangat jelas wajibnya seorang Muslim mentaati penguasa meskipun ia terkenal fasik dan dzalim.<span> </span>Bahkan di dalam riwayat-riwayat lain, Rasulullah saw telah memberikan penegasan (<em>ta’k</em></span><em><span>î</span></em><em><span>d</span></em><span>) agar kaum Muslim tetap mentaati penguasa dalam kondisi apa pun.<span> </span></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:130%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><span> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:130%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><strong><span>Kapan Penguasa Tidak Boleh Ditaati?</span></strong></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">Meskipun kaum Muslim diperintahkan untuk tetap mentaati penguasa dzalim dan fasiq<a name="_ftnref5" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[5]</span></span></span></span></a>, dan dilarang memerangi dengan pedang, akan tetapi dalam satu kondisi; kaum mukmin wajib memisahkan diri dari mereka, tidak memberikan ketaatan kepada mereka, dan<span> </span>diperbolehkan memerangi mereka dengan pedang, yaitu, jika mereka telah menampakkan kekufuran yang nyata.<span> </span>Ketentuan semacam ini didasarkan pada riwayat-riwayat berikut ini.<span> </span>Imam Muslim menuturkan sebuah riwayat, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:130%;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:130%;">سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ قَالُوا أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ قَالَ لَا مَا صَلَّوْا</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:130%;direction:ltr;unicode-bidi:embed;"><em><span>“Akan datang<span> </span>para penguasa, lalu kalian akan mengetahui kemakrufan dan kemungkarannya, maka siapa saja yang membencinya akan bebas (dari dosa), dan siapa<span> </span>saja yang mengingkarinya dia akan selamat, tapi siapa saja yang rela dan mengikutinya (dia akan celaka)”. Para shahabat bertanya, “Tidaklah kita perangi mereka?” Beliau bersabda, “Tidak, selama mereka masih menegakkan sholat” </span></em><span>Jawab Rasul.” [</span><strong><span>HR. Imam Muslim</span></strong><span>]<em></em></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">Tatkala berkomentar terhadap hadits ini, Imam Nawawi, dalam Syarah Shahih Muslim menyatakan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:130%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:130%;">“</span><span style="font-size:16pt;line-height:130%;">قوله صلى الله عليه وسلم : ( ستكون أمراء فتعرفون وتنكرون فمن عرف فقد برئ ومن أنكر سلم , ولكن من رضي وتابع , قالوا : أفلا نقاتلهم ؟ قال : لا . . . ما صلوا ” هذا الحديث فيه معجزة ظاهرة بالإخبار بالمستقبل , ووقع ذلك كما أخبر صلى الله عليه وسلم . وأما قوله صلى الله عليه وسلم : ( فمن عرف فقد برئ ) وفي الرواية التي بعدها : ( فمن كره فقد برئ ) فأما رواية من روى ( فمن كره فقد برئ ) فظاهرة , ومعناه : من كره ذلك المنكر فقد برئ من إثمه وعقوبته , وهذا في حق من لا يستطيع إنكاره بيده لا لسانه فليكرهه بقلبه , وليبرأ . وأما من روى ( فمن عرف فقد برئ ) فمعناه &#8211; والله أعلم &#8211; فمن عرف المنكر ولم يشتبه عليه ; فقد صارت له طريق إلى البراءة من إثمه وعقوبته بأن يغيره بيديه أو بلسانه , فإن عجز فليكرهه بقلبه . وقوله صلى الله عليه وسلم : ( ولكن من رضي وتابع ) معناه : لكن الإثم والعقوبة على من رضي وتابع . وفيه : دليل على أن من عجز عن إزالة المنكر لا يأثم بمجرد السكوت . بل إنما يأثم بالرضى به , أو بألا يكرهه بقلبه أو بالمتابعة عليه . وأما قوله : ( أفلا نقاتلهم ؟ قال : لا , ما صلوا ) ففيه معنى ما سبق أنه لا يجوز الخروج على الخلفاء بمجرد الظلم أو الفسق ما لم يغيروا شيئا من قواعد الإسلام .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">“Sabda Nabi saw, “(<em>Satuk</em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">û</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">nu umar</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">u fa ta’rif</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">û</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">a wa tunkir</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">û</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">n faman ‘arifa faqad bari`a wa man ankara salima, wa lakin man radhiya wa t</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">ba’a, q</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">l</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">û</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">: afal</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;"> nuq</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">tiluhum? Q</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">la: L</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">…m</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;"> shall</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">û</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">)”, hadits ini, di dalamnya terkandung mukjizat yang sangat nyata mengenai informasi yang akan terjadi di masa mendatang, dan hal ini telah terjadi sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi saw.<span> </span>Adapun sabda Rasulullah saw, “(<em>faman ‘arafa faqad bari`a</em>) dan dalam riwayat lain dituturkan, “(<em>faman kariha faqad bari`a</em>).<span> </span>Adapun riwayat dari orang yang meriwayatkan, “(<em>faman kariha faqad bari`a</em>), maka hal ini sudah sangat jelas. Maknanya adalah, ”Siapa saja yang membenci kemungkaran tersebut, maka terlepaslah dosa dan siksanya.<span> </span>Ini hanya berlaku bagi orang yang tidak mampu mengingkari dengan tangan dan lisannya, lalu ia mengingkari kemungkaran itu dengan hati.<span> </span>Dengan demikian, ia telah terbebas (dari dosa dan siksa). Adapun orang yang meriwayatkan dengan redaksi ”(<em>faman ’arafa bari`a</em>), maknanya adalah –Allah swt yang lebih Mengetahui–, ”Siapa saja yang menyaksikan kemungkaran, kemudian ia tidak mengikutinya, maka ia akan mendapat jalan untuk terlepas dari dosa dan siksanya dengan cara mengubah kemungkaran itu dengan tangan dan lisannya.<span> </span>Dan jika tidak mampu, hendaknya ia mengingkari kemungkaran itu dengan hatinya.<span> </span>Sedangkan sabda beliau, ”(<em>walakin man radhiya wa t</em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">ba’a</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">)”, maknanya adalah, akan tetapi, dosa dan siksa akan dijatuhkan kepada orang yang meridloi dan mengikuti.<span> </span>Hadits ini merupakan dalil, bahwa orang yang tidak mampu melenyapkan kemungkaran tidak akan berdosa meskipun hanya <em>suk</em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">û</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">t</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;"> (mengingkari kemungkaran dengan diam).<span> </span>Namun, ia berdosa jika ridlo dengan kemungkaran itu, atau jika<span> </span>tidak membenci kemungkaran itu, atau malah mengikutinya.<span> </span>Adapun sabda Rasulullah saw, ”(<em>Afal</em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;"> nuq</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">tiluhum? Q</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">la” L</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">, m</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;"> shalluu</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">), di dalamnya terkandung makna sebagaimana disebutkan sebelumnya, yakni tidak boleh memisahkan diri dari para khalifah, jika sekedar dzalim dan fasik, dan selama mereka<span> </span>tidak mengubah salah satu dari sendi-sendi Islam”.<a name="_ftnref6" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10pt;">[6]</span></strong></span></span></strong></span></a></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">Dalam hadits ‘Auf bin Malik yang diriwayatkan Imam Muslim, juga<span> </span>diceritakan:</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:130%;font-weight:normal;">قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">“Ditanyakan,”Ya Rasulullah, mengapa kita tidak memerangi mereka dengan pedang?!</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">‘ <em>Lalu dijawab, ”Tidak, selama di tengah kalian masih ditegakkan shalat</em>.” [</span><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">HR. Imam Muslim</span><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">]</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">Dalam riwayat lain, mereka berkata:</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;"> </span></em></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;line-height:130%;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:130%;">قَالُوا أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ قَالَ لَا مَا صَلَّوْا</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">“Kami bertanya, ‘Ya Rasulullah, mengapa kita tidak mengumumkan perang terhadap mereka ketika itu?!</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">‘ Beliau menjawab, <em>‘Tidak, selama mereka masih sholat.”</em></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Ubadah bin Shamit, bahwasanya dia berkata:</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:130%;font-weight:normal;">دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">“<em>Nabi SAW mengundang kami, lalu kami mengucapkan baiat kepada beliau dalam segala sesuatu yang diwajibkan kepada kami bahwa kami berbaiat kepada beliau untuk selalu mendengarkan dan taat [kepada Allah dan Rasul-Nya], baik dalam kesenangan dan kebencian kami, kesulitan dan kemudahan kami dan beliau juga menandaskan kepada kami untuk tidak mencabut suatu urusan dari ahlinya kecuali jika kalian (kita) melihat kekufuran secara nyata [dan] memiliki bukti yang kuat dari Allah.”</em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;"> </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">[</span><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">HR. Bukhari</span><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">]</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">Hadits-hadits ini telah mengecualikan larangan untuk memisahkan diri dan memerangi penguasa dengan pedang pada satu kondisi, yakni ”kekufuran yang nyata”.<span> </span>Artinya, jika seorang penguasa telah melakukan kekufuran yang nyata, maka kaum Mukmin wajib melepaskan ketaatan dari dan diperbolehkan memerangi mereka dengan pedang.<span> </span></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">Al-Hafidz Ibnu Hajar, tatkala mengomentari hadits-hadits di atas menyatakan, jika kekufuran penguasa bisa dibuktikan dengan ayat-ayat, nash-nash, atau berita shahih yang tidak memerlukan takwil lagi, maka seorang wajib memisahkan diri darinya.<span> </span>Akan tetapi, jika bukti-bukti kekufurannya masih samar dan masih memerlukan takwil,<span> </span>seseorang tetap tidak boleh memisahkan diri dari penguasa.<a name="_ftnref7" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[7]</span></span></span></span></a> <em></em></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">Imam al-Khathabiy menyatakan; yang dimaksud dengan “<em>kufran bawahan</em>“<span> </span>(kekufuran yang nyata) adalah “<em>kufran dz</em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">hiran b</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">diyan</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">” (kekufuran yang nyata dan terang benderang)<a name="_ftnref8" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[8]</span></span></span></span></a></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">‘Abdul Qadim Zallum, dalam <em>Nidz</em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">m al-<span style="text-decoration:underline;">H</span>ukmi fi al-Isl</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">m, </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">menyatakan, bahwa maksud dari sabda Rasulullah saw “<em>selama mereka masih mengerjakan sholat</em>“, adalah selama mereka masih memerintah dengan Islam; yakni menerapkan hukum-hukum Islam, bukan hanya mengerjakan sholat belaka.<span> </span>Ungkapan semacam ini termasuk dalam <em>majaz</em> <em>ithl</em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">q al-juz`iy wa ir</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">d</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">t al-kulli</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;"> (disebutkan sebagian namun yang dimaksud adalah keseluruhan).<a name="_ftnref9" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[9]</span></span></span></span></a> </span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">Masih menurut ‘Abdul Qadim Zallum, riwayat yang dituturkan oleh ‘Auf bin Malik, Ummu Salamah, dan ‘Ubadah bin Shamit, seluruhnya berbicara tentang <em>khuruj ‘ala al-imaam</em> (memisahkan diri dari imam), yakni larangan memisahkan diri dari imam.<span> </span>Ini termaktub dengan jelas pada redaksi hadits: “<em> Para shahabat bertanya, “Tidaklah kita perangi mereka?” Beliau bersabda, “Tidak, selama mereka masih menegakkan sholat” </em>Jawab Rasul.” [HR. Imam Muslim].<span> </span>Dengan demikian, hadits ini merupakan larangan bagi kaum Muslim untuk memisahkan diri dari penguasa, meskipun ia terkenal fasiq dan dzalim.<a name="_ftnref10" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[10]</span></span></span></span></a><span> </span></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">Masih menurut ‘Abdul Qadim Zallum; akan tetapi, larangan memisahkan diri dari penguasa telah dikecualikan oleh potongan kalimat berikutnya, yakni,”<em> kecuali jika kalian (kita) melihat kekufuran secara nyata dan memiliki bukti yang kuat dari Allah.”</em>[HR. Bukhari].<span> </span>Ini menunjukkan, bahwa seorang Muslim wajib memisahkan diri dari penguasa, bahkan boleh memerangi mereka dengan pedang, jika telah terbukti dengan nyata dan pasti, bahwa penguasa tersebut telah terjatuh ke dalam “kekufuran yang nyata.” <a name="_ftnref11" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[11]</span></span></span></span></a></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">Bukti-bukti yang membolehkan kaum Muslim memerangi khalifah haruslah bukti yang menyakinkan (qath’iy).<span> </span>Ini didasarkan pada kenyataan, bahwa kekufuran adalah lawan keimanan.<span> </span>Jika keimanan harus didasarkan pada bukti-bukti yang menyakinkan (qath’iy), demikian juga mengenai kekufuran.<span> </span>Kekufuran harus bisa dibuktikan berdasarkan bukti maupun fakta yang pasti, tidak samar, dan tidak memerlukan takwil lagi.<span> </span>Misalnya, jika seorang penguasa telah murtad dari Islam, atau mengubah sendi-sendi ‘aqidah dan syariat Islam berdasarkan bukti yang menyakinkan, maka ia tidak boleh ditaati, dan wajib diperangi.<span> </span>Sebaliknya, jika bukti-bukti kekufurannya tidak pasti, samar, dan masih mengandung takwil, seorang Muslim tidak diperkenankan mengangkat pedang di hadapannya.</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">Imam Nawawiy, di dalam Syarah Shahih Muslim menyatakan:</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:130%;font-weight:normal;">قال القاضي عياض : أجمع العلماء على أن الإمامة لا تنعقد لكافر , وعلى أنه لو طرأ عليه الكفر انعزل , قال : وكذا لو ترك إقامة الصلوات والدعاء إليها , ….. قال القاضي : فلو طرأ عليه كفر وتغيير للشرع أو بدعة خرج عن حكم الولاية , وسقطت طاعته , ووجب على المسلمين القيام عليه , وخلعه ونصب إمام عادل إن أمكنهم ذلك.</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">Imam Qadliy ‘Iyadl menyatakan, “<em>Para ulama telah sepakat bahwa imamah tidak sah diberikan kepada orang kafir.<span> </span>Mereka juga sepakat, seandainya seorang penguasa terjatuh ke dalam kekafiran, maka ia wajib dimakzulkan.<span> </span>Beliau juga berpendapat, “Demikian juga jika seorang penguasa meninggalkan penegakkan sholat dan seruan untuk sholat…Imam Qadliy ’Iyadl berkata, ”Seandainya seorang penguasa terjatuh ke dalam kekufuran dan mengubah syariat, atau terjatuh dalam bid’ah yang mengeluarkan dari hukm al-wilayah (tidak sah lagi mengurusi urusan pemerintahan), maka terputuslah ketaatan kepadanya, dan wajib atas kaum Muslim untuk memeranginya, memakzulkannya, dan mengangkat seorang imam adil, jika hal itu memungkinkan bagi mereka”.<a name="_ftnref12" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10pt;">[12]</span></strong></span></span></span></a></em></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">Patut dicatat, kewajiban memerangi penguasa yang telah terjatuh ke dalam “kekufuran yang nyata” berlaku bagi penguasa yang sebelumnya menerapkan sistem Islam, kemudian ia mengubahnya menjadi sistem kufur.<span> </span>Pada saat itu, umat Islam harus mencegah tindakan tersebut sekalipun dengan mengangkat senjata.<span> </span>Sedangkan apabila penguasa itu sejak awal menerapkan sistem kufur, maka tindakan yang dilakukan terhadapnya tidak dengan mengangkat senjata.<span> </span>Namun, melalui aktivitas dakwah yang mengikuti thariqah dakwah Rasulullah saw dalam mengubah masyarakat kufur menjadi masyarakat Islam. Dan thariqah dakwah Rasulullah saw dalam mengubah masyarakat kufur menjadi masyarakat Islam tidak menggunakan kekerasan dan senjata.<span> </span>Beliau saw melakukan pembinaan (<em>tatsqif</em>), berinteraksi dengan umat (<em>tafaa’ul ma’a al-ummah</em>), dan<span> </span>pengambilalihan kekuasaan (<em>istilaam al-hukm</em>).</span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;"> </span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">Status Penguasa Dalam Sistem Kufur</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">Para ulama telah sepakat; seorang Muslim wajib memisahkan diri dari penguasa yang telah terjatuh kepada kekufuran yang nyata, berdasarkan hadits-hadits shahih di atas.<span> </span>Mereka juga sepakat mengenai bolehnya memerangi penguasa yang telah terjatuh kepada kekufuran yang nyata. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">Di dalam <em>Syar<span style="text-decoration:underline;">h</span> an-Nawawi ‘al</em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;"> Shah</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">î</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">h Muslim</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">, dijelaskan sebagai berikut,” <em>al-Q</em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">dhi ‘Iy</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">dh berkata, “Para ulama’ telah sepakat, bahwa jabatan imamah tidak boleh diserahkan kepada orang kafir, kalau tiba-tiba kekufuran itu menimpa dirinya.<span> </span>Dalam kondisi semacam ini ia wajib dipecat. Beliau berkata,” Ketentuan ini juga berlaku jika ia meninggalkan penegakkan sholat dan dakwah untuk mendirikan sholat.<span> </span>Lalu, Imam Nawawi berkata,” al-Qaadhi berkata,” “Seandainya khalifah terjatuh ke dalam kekufuran, atau mengubah syariat, atau melakukan bid’ah yang bisa mengeluarkan dirinya dari jabatan kepala negara; maka ia tidak wajib ditaati.<span> </span>Kaum Muslim wajib mengangkat senjata, mencopotnya, dan mengangkat imam adil yang baru, jika mereka mampu melakukan hal itu.”</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">.<a name="_ftnref13" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[13]</span></span></span></span></a></span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">Pertanyaannya, kapan seorang penguasa dianggap telah terjatuh kepada ”kekufuran yang nyata”, sehingga kaum Muslim harus melepaskan ketaatan kepada mereka?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">Dr. Muhammad Khair Haekal menyatakan; penguasa dianggap telah terjatuh kepada kekufuran yang nyata, jika ia berada dalam kondisi-kondisi berikut ini;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;"><span>1.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">Kekufuran nyata yang terjadi pada diri penguasa itu sendiri.<span> </span>Para ulama berpendapat mengenai wajibnya “<em>mun</em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">za’ah</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">” (merebut kekuasaan) dari penguasa yang telah keluar dari Islam<a name="_ftnref14" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[14]</span></span></span></span></a>.<span> </span>Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari ‘Ubadah bin Shaamit ra, bahwasanya ia berkata:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;line-height:130%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:16pt;line-height:130%;">دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ</span></p>
<p class="MsoTitle" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">“<em>Nabi SAW mengundang kami, lalu kami mengucapkan baiat kepada beliau dalam segala sesuatu yang diwajibkan kepada kami bahwa kami berbaiat kepada beliau untuk selalu mendengarkan dan taat [kepada Allah dan Rasul-Nya], baik dalam kesenangan dan kebencian kami, kesulitan dan kemudahan kami dan beliau juga menandaskan kepada kami untuk tidak mencabut suatu urusan dari ahlinya kecuali jika kalian (kita) melihat kekufuran secara nyata [dan] memiliki bukti yang kuat dari Allah.”</em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;"> </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">[</span><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">HR. Bukhari dan Muslim</span><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;"><span>2.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">Kekufuran nyata yang terjadi pada individu-individu kaum Muslim karena kemurtadan mereka dari Islam, namun hal ini tidak diingkari atau dicegah oleh penguasa.<span> </span>Ketentuan ini didasarkan pada riwayat-riwayat yang bertutur wajibnya merebut kekuasaan ketika telah terjadi kekufuran yang nyata pada individu-individu kaum Muslim, dan penguasa tidak mengingkari kekufuran ini.<span> </span>Menurut Dr. Mohammad Khair Haekal, kekufuran tersebut tidak dibatasi hanya kepada penguasa saja atau selain penguasa.<span> </span>Hadits-hadits itu hanya di<em>taqyiid</em> (dibatasi) dengan kata “<em>bawahan</em>” (nyata) belaka; yakni kekufuran tersebut terjadi secara terang-terangan, telah tersebar luas, dan sudah tidak bisa diingkari lagi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;"><span>3.<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">Kekufuran nyata yang berasal dari sistem pemerintahannya, yakni, ketika penguasa tersebut menegakkan sistem pemerintahan di atas aqidah kufur, walaupun penguasa itu belum dianggap kafir.<span> </span>Ketentuan ini didasarkan pada riwayat-riwayat yang menuturkan wajibnya merebut kekuasaan dari penguasa jika telah tampak kekufuran yang nyata.<span> </span>Frase “<em>kekufuran nyata</em>” yang terdapat di dalam nash-nash tersebut tidak hanya diterapkan kepada penguasa yang jatuh kepada kekufuran maupun kepada selain penguasa; akan tetapi juga bisa diberlakukan pada sistem pemerintahan yang ditegakkan di atas aqidah kufur, misalnya atheisme maupun sekulerisme; dan selanjutnya, sistem ini dipaksakan dan diberlakukan di tengah-tengah masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">Oleh karena itu, jika seorang penguasa memerintahkan rakyatnya melakukan kemaksiyatan, namun selama sistem aturannya menganggap kemaksiyatan itu sebagai tindak penyimpangan terhadap aturan, maka dalam kondisi semacam ini belum terwujud apa yang disebut dengan “kekufuran yang nyata”, baik pada penguasa maupun sistem pemerintahannya. Namun, bila kemaksiyatan yang dilakukannya berpijak kepada sistem aturan yang justru melegalkan dan mensahkan tindak kemaksiyatan tersebut, misalnya, karena sistem aturannya dibangun berdasarkan sekulerisme–, maka kemaksiyatan semacam ini dianggap sebagai “<em>kekufuran yang nyata</em>“<a name="_ftnref15" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[15]</span></span></span></span></a>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:130%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">Kesimpulan</span></strong></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">Berdasarkan penjelasan Dr. Muhammad Khair Haekal di atas dapatlah disimpulkan bahwa penguasa-penguasa yang menjadikan aqidah kufur sebagai asas negara –semacam demokrasi dan sekulerisme–, serta menerapkan aturan-aturan kufur telah terjatuh kepada tindak ”kekufuran yang nyata” (<em>kufran shurahan</em>), walaupun secara individu mereka masih mengerjakan sholat. <span> </span>Begitu pula jika mereka tidak lagi menyeru rakyat untuk menegakkan sholat dengan cara menegakkan sanksi bagi orang yang tidak mengerjakan sholat; atau jika mereka sudah mengubah salah satu sendi dari Islam; maka dalam kondisi semacam ini mereka tidak boleh ditaati, bahkan kaum Muslim wajib memisahkan diri dari mereka dan memakzulkan mereka jika memungkinkan. </span></p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;text-indent:0;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;font-weight:normal;">Pendapat ini sejalan dengan penjelasan Imam Syaukaniy ketika menafsirkan firman Allah swt, surat An Nisa’ ayat 59; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:130%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span style="font-size:16pt;line-height:130%;">“</span></strong><span style="font-size:16pt;line-height:130%;">وأولي الأمر هم : الأئمة ، والسلاطين ، والقضاة ، وكل من كانت له ولاية شرعية لا ولاية طاغوتية</span><span style="font-size:16pt;line-height:130%;">”</span><span style="font-size:16pt;line-height:130%;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:130%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">“Ulil amriy adalah para imam, sultan, qadliy, dan setiap orang yang memiliki kekuasaan syar’iyyah<a name="_ftnref16" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10pt;">[16]</span></strong></span></span></span></a> bukan kekuasaan thaghutiyyah<a name="_ftnref17" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10pt;">[17]</span></strong></span></span></span></a>”.<a name="_ftnref18" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10pt;">[18]</span></strong></span></span></span></a></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">Walhasil, penguasa-penguasa di negeri-negeri kaum Muslim saat ini telah terjatuh ke dalam kekufuran yang nyata.<span> </span>Kaum Muslim wajib memisahkan diri dari mereka, tidak memberikan ketaatan kepada mereka, dan dengan sekuat tenaga berjuang untuk mengganti system kufur tersebut menjadi system Islam.<span> </span>Inilah pendapat yang lurus, suci, dan dipegang oleh para ulama-ulama wara’.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:130%;"><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">Sayangnya, ketentuan semacam ini telah dikaburkan dan diselewengkan oleh ulama-ulama <em>salatin</em> yang rela berkhianat terhadap umat Islam untuk melanggengkan eksistensi penguasa dan pemerintahan kufur melalui fatwa-fatwa culas dan penuh dengan pengkhianatan.<span> </span><span> </span>Ulama-ulama ini tidak segan-segan dan malu-malu menyerukan kepada umat Islam agar mereka tetap mentaati penguasa-penguasa sekarang, padahal para penguasa itu telah terjatuh ke dalam “<em>kekufuran yang nyata</em>”.<span> </span><em>WaLl</em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">hu al-H</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">diy al-Muwaffiq ila Aqw</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">m al-Th</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">â</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">riq</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:130%;">.<em> </em><strong></strong></span></p>
<div>
<hr size="1" />
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn1" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[1]</span></span></span></span></a><span lang="ES"> Imam Nasafiy, <em>Madaarik al-Tanziil wa Haqaaiq al-Ta`wiil</em>, surat al-Nisaa’:59</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn2" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[2]</span></span></span></span></a><span lang="ES"> Ibnu al-‘Arabiy, <em>Ahkaam al-Quran, tafsir surat al-Nisaa’:59</em></span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn3" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[3]</span></span></span></span></a><span> <em><span lang="ES">Minhaaj al-Sunnah</span></em><span lang="ES">, juz 1/115</span></span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:9pt;text-align:justify;text-indent:-9pt;"><a name="_ftn4" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[4]</span></span></span></span></a> Imam al-Nawawi, <em>Syarh Shahih Muslim, </em>juz VIII, hal. 35.<em> </em></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;"><a name="_ftn5" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[5]</span></span></span></span></a><span lang="ES"><span> </span>Yang dimaksud penguasa fasiq dan dzalim yang tetap harus ditaati adalah penguasa-penguasa yang masih menerapkan sistem Islam untuk mengatur urusan negara dan rakyat, namun berbuat dzalim dan fasiq.<span> </span>Dengan kata lain, selama mereka masih menerapkan sistem pemerintahan Islam, menjadikan aqidah Islamiyyah sebagai landasan dasar negara dan masyarakat, serta menerapkan syariat Islam untuk mengatur urusan rakyat; kaum Muslim wajib mentaati mereka, meskipun penguasa tersebut dzalim dan fasiq.</span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn6" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[6]</span></span></span></span></a> Imam al-Nawawiy, <em>Syarah Shahih Muslim</em>, juz<span> </span>12/243-244</p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn7" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[7]</span></span></span></span></a><span lang="ES"> Al-Hafidz Ibnu Hajar, <em>Fath al-Baariy, </em>juz 13/8-9<em></em></span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn8" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[8]</span></span></span></span></a><span lang="ES"> Ibid, juz 13/8</span></p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn9" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[9]</span></span></span></span></a><span lang="ES"> ‘Abdul Qadim Zallum, <em>Nidzam al-Hukmi fi al-Islaam, </em>hal. 257-258</span></p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn10" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[10]</span></span></span></span></a> Ibid, hal. 258-260</p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn11" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[11]</span></span></span></span></a> Ibid, hal. 259-260</p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn12" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[12]</span></span></span></span></a> Imam Muslim, Syarah Shahih Muslim, juz 8, hal. 35-36</p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:9pt;text-align:justify;text-indent:-9pt;"><a name="_ftn13" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[13]</span></span></span></span></a> Imam al-Nawawiy, Syarah Shahih Muslim, juz VIII, hal. 35-36.</p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText" style="margin-left:9pt;text-indent:-9pt;"><a name="_ftn14" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[14]</span></span></span></span></a><span dir="rtl"> </span>Imam al-Nawawiy, <em>Syarah Shahih Muslim, </em>juz 8, hal. 35-36.<span> </span><span lang="ES">Al-Hafidz Ibnu Hajar, <em>Fath al-Baariy, </em>juz 13, hal. 8</span></p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn15" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[15]</span></span></span></span></a> Dr. Mohammad Khair Haekal, <em>al-Jihaad wa al-Qitaal fi al-Siyaasah al-Syar’iyyah, </em>juz 1, hal. 130-131.<span> </span>Buku ini merupakan desertasinya untuk meraih gelar doctor dari Kuliah al-Imam al-Auza’iy, pada al-Dirasah al-Islaamiyyah di Beirut pada tahun 1412 H. Desertasi ini meraih gelar <em>imtiyaaz ma’ al-tanwiih</em> (<em>summa cum laude</em>); bahkan jika ada gelar yang lebih tinggi daripada <em>summa cum laude</em> tentu beliau akan meraihnya.</p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn16" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[16]</span></span></span></span></a> K<span>ekuasaan atau pemerintahan yang didasarkan pada aqidah dan syariat Islam.</span></p>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn17" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[17]</span></span></span></span></a> K<span>ekuasaan atau pemerintahan yang didasarkan pada aqidah dan system kufur.</span></p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn18" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/23/kapan-penguasa-tidak-boleh-ditaati/#_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[18]</span></span></span></span></a> Imam al-Syaukaniy, <em>Fath al-Qadiir, </em>juz 2, hal. 166.</p>
</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ponsen.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ponsen.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ponsen.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ponsen.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ponsen.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ponsen.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ponsen.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ponsen.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ponsen.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ponsen.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ponsen.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ponsen.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ponsen.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ponsen.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ponsen.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ponsen.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ponsen.wordpress.com&amp;blog=3860865&amp;post=17&amp;subd=ponsen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ponsen.wordpress.com/2008/08/24/jangan-dulu-taat-pada-penguasa-kecuali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8164540978ecefa6f10714eb8e81d26e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ponsensindu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wahai Pencinta Sesama Jenis&#8230;</title>
		<link>http://ponsen.wordpress.com/2008/08/06/wahai-pencinta-sesama-jenis/</link>
		<comments>http://ponsen.wordpress.com/2008/08/06/wahai-pencinta-sesama-jenis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Aug 2008 18:04:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ponsensindu</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Homo]]></category>
		<category><![CDATA[Lesbi]]></category>
		<category><![CDATA[Pencinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ponsen.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Istilah homoseksual dan lesbianisme bukanlah perkara baru. Aktivitas seksual antara laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan sesama perempuan tersebut dikenal dengan istilah liwath. Pertama kali, penyimpangan seksual ini terjadi pada kaum Nabi Luth. Beliau diutus kepada kaum Sodom yang biasa melakukan liwath. Nabi Luth diperintahkan untuk mendakwahi dan amar ma’ruf nahi munkar kepada mereka. Allah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ponsen.wordpress.com&amp;blog=3860865&amp;post=14&amp;subd=ponsen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Istilah homoseksual dan lesbianisme bukanlah perkara baru.<span> </span>Aktivitas seksual antara laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan sesama perempuan tersebut dikenal dengan istilah liwath.<span> </span>Pertama kali, penyimpangan seksual ini terjadi pada kaum Nabi Luth.<span> </span>Beliau diutus kepada kaum Sodom yang biasa melakukan liwath.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Nabi Luth diperintahkan untuk mendakwahi dan amar ma’ruf nahi munkar kepada mereka.<span> </span>Allah SWT menjelaskan hal ini: “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: ’Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?’<span> </span>Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.<span> </span>Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: ’Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri.’<span> </span>Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan) (TQS. Al-A’raf[7]:80-83).<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Cara melampiaskan hasrat seksual bermacam cara, ada yang halal seperti lewat pernikahan; ada juga yang diharamkan seperti homoseksualitas dan lesbianisme.<span> </span>Terlepas dari hal tersebut, semuanya lahir dari gejolak seksualitas.<span> </span>Padahal, seksualitas tersebut dorongannya bersifat instingtif (gharizah) yang berbeda dengan kebutuhan fisik (hajatul ’udhawiyah).<span> </span>Kebutuhan fisik akan muncul dengan sendirinya.<span> </span>Siapapun yang tidak minum lama kelamaan akan haus, orang yang lama tidak istirahat akan merasakan lelah, dan sebagainya.<span> </span>Sedangkan, gharizah akan muncul bila ada rangsangan. Gejolak seksual muncul apabila ada rangsangan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Demikian juga hasrat untuk homoseks atau lesbian akan muncul bila terdapat rangsangan-rangsangan yang mendorong untuk mencoba atau melakukannya.<span> </span>Ada dua rangsangan yang umumnya merangsang manusia, yaitu pikiran dan realitas yang nampak. <span> </span>Untuk itu, cara untuk mencegah aktivitas seksual menyimpang tersebut adalah dengan cara menghilangkan rangsangan-rangsangan terkait dengannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pertama, terkait pemikiran.<span> </span>Pemikiran yang mendorong orang mencoba melakukan homoseks atau lesbi adalah pemikiran serba bebas, yakni liberalisme materialisme.<span> </span>Dalam liberalisme, orang dipahamkan bahwa hidup itu terserah mau melakukan apa saja.<span> </span>Tolok ukurnya pun bersifat materialistik.<span> </span>Karenanya, aktivitas liwath didudukkan sebatas cara memuaskan hasrat seksual yang mereka sebut dengan orientasi seksual.<span> </span>Yang penting sama-sama enjoy.<span> </span>Padahal, dalam Islam, seksualitas merupakan nikmat Allah SWT untuk melanjutkan keturunan.<span> </span>Tidak mengherankan bila hubungan seksual diibaratkan al-Quran sebagai ladang dan bercocok tanam (lihat surat al-Baqarah:223).<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Selain itu, alasan hak asasi manusia (HAM) sering kali ditanamkan sebagai dalih untuk melakukan perbuatan kaum Sodom.<span> </span>Bahkan, ada juga pemikiran gender yang justru menimbulkan kebencian kepada laki-laki hingga dianggapnya saingan dan musuh bagi perempuan.<span> </span>Muaranya ada perempuan yang menjadi lesbi dengan dalih tersebut. <span> </span>Selama pemikiran-pemikiran ini terus dikembangkan di tengah masyarakat maka atas nama kebebasan pribadi dan berekspresi<span> </span>penyimpangan seksual tersebut tetap mendapat tempat.<span> </span>Oleh sebab itu, pemikiran liberalisme tidak boleh dikembangkan di masyarakat.<span> </span>Di Indonesia beruntung, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Musyawarah Nasional beberapa tahun lalu mengharamkan paham sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme (sepilis).<span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kedua, secara individual menjauhi hal-hal yang dapat mengundang hasrat melakukan liwath.<span> </span>Islam sangat memperhatikan fitrah manusia.<span> </span>Terkait masalah ini, Rasulullah SAW bersabda: ”Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki, jangan pula perempuan melihat aurat perempuan.<span> </span>Janganlah seorang laki-laki tidur dengan laki-laki dalam satu selimut, begitu juga janganlah perempuan tidur dengan perempuan dalam satu selimut” (HR. Muslim).<span> </span>Laki-laki yang melihat aurat laki-laki ataupun perempuan yang melihat aurat sesama perempuan akan terangsang.<span> </span>Ini adalah bibit penyimpangan seksual.<span> </span>Apalagi kalau tidur dalam satu selimut.<span> </span>Islam sangat ketat memerintahkan hal tersebut.<span> </span>Bahkan, dimulai sejak anak baligh.<span> </span>Bahkan, adik dan kakak yang sudah sama-sama balig tidak boleh melakukannya.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ketiga, secara sistemik hilangkan berbagai hal di tengah masyarakat yang dapat merangsang orang untuk mencoba-coba.<span> </span>Misalnya, hentikan pornografi terkait homo dan lesbi.<span> </span>Kini, di dunia maya berkeliaran promosi tentang itu.<span> </span>VCD liwath pun dijual laksana kacang goreng.<span> </span>Bahkan, promosi homo dan lesbi di media termasuk TV terus gencar dilakukan.<span> </span>Penampilan laki-laki meniru perempuan atau perempuan meniru lak-laki semakin menggila, padahal Islam melarangnya.<span> </span>”Rasulullah SAW melarang laki-laki yang meniru perempuan, dan perempuan yang meniru laki-laki” (HR. Bukhari).<span> </span>Ujungnya laki-laki merasa sebagai perempuan yang karenanya lebih melampiaskannya dengan sesama laki-laki.<span> </span>Pemerintah dalam aturan Islam harus mengeluarkan kebijakan tentang tegas terkait hal ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Keempat, permudah pernikahan.<span> </span>Terkadang ada rasa takut menikah.<span> </span>Orang tua tidak setuju nikah usia muda dengan alasan belum mapan.<span> </span>Biaya pernikahan pun tinggi.<span> </span>Sementara itu, gejolak seksual besar akibat berbagai rangsangan yang ada.<span> </span>Pada sisi lain, ada kekhawatiran hamil di luar nikah.<span> </span>Jalan keluarnya, ada yang mengambil jalan menjadi homo dan lesbi.<span> </span>Untuk itu orang tua dan pemerintah perlu mempermudah pernikahan.<span> </span>Dorong untuk nikah dini.<span> </span>Negara harus memfasilitasi.<span> </span>Bukan malah menghalang-halangi nikah usia muda.<span> </span>Rasulullah SAW memerintahkan menikah pada saat usia masih muda (HR. Muttafaq ’Alaihi).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kelima, terapkan hukuman.<span> </span>Bila berbagai pencegahan telah dilakukan tetapi tetap juga terjadi aktivitas homo dan lesbi, maka pengadilan dalam pemerintahan Islam menerapkan hukuman sesuai syara terhadap mereka.<span> </span>Perbuatan tersebut terkategori perbuatan kriminal.<span> </span>Bila pengadilan menemukan bukti dan diputuskan di pengadilan, hukuman bagi para pelakunya adalah hukuman mati.<span> </span>Hal ini didasarkan kepada sunnah Rasulullah SAW.<span> </span>Rasulullah bersabda: ”Siapa saja yang kalian temukan melakukan perbuatan kaum Luth (liwath) maka hukum matilah baik yang melakukan maupun yang diperlakukannya” (HR. Al-Khomsah kecuali an-Nasa’i).<span> </span>Selain itu, para sahabat telah berijma’ bahwa hukuman bagi mereka adalah hukuman mati.<span> </span>Imam Baihaki meriwayatkan bahwa Abu Bakar mengumpulkan orang terkait seorang laki-laki yang menggauli sesama lelaki sebagaimana menggauli perempuan. <span> </span>Beliau bertanya kepada para sahabat Rasulullah SAW.<span> </span>Semuanya sepakat pelakunya dijatuhi hukuman mati (Lihat, Abdurrahman al-Maliki, Nizham al-’Uqubat, hal. 80-82). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Jelas, syariat Islam memiliki cara untuk mencegah menyebarnya penyakit liwath ini.<span> </span>Begitu juga, Islam memiliki cara jitu untuk menghentikan pelakunya.<span> </span>Karenanya, siapapun yang menghendaki masyarakat bersih, akan menuntut penerapan syariat. </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ponsen.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ponsen.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ponsen.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ponsen.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ponsen.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ponsen.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ponsen.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ponsen.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ponsen.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ponsen.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ponsen.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ponsen.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ponsen.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ponsen.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ponsen.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ponsen.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ponsen.wordpress.com&amp;blog=3860865&amp;post=14&amp;subd=ponsen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ponsen.wordpress.com/2008/08/06/wahai-pencinta-sesama-jenis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8164540978ecefa6f10714eb8e81d26e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ponsensindu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peringatan Al Qur’an Bagi Pembela Ahmadiyyah</title>
		<link>http://ponsen.wordpress.com/2008/08/06/peringatan-al-qur%e2%80%99an-bagi-pembela-ahmadiyyah/</link>
		<comments>http://ponsen.wordpress.com/2008/08/06/peringatan-al-qur%e2%80%99an-bagi-pembela-ahmadiyyah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Aug 2008 17:56:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ponsensindu</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmadiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Al Qur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ponsen.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Di tengah santernya tuntutan umat Islam terhadap pemerintah untuk membubarkan Ahmadiyyah, kaum Liberal makin lantang membela keberadaan aliran sesat itu. Dengan berbagai dalih, mereka menolak tuntutan pembubaran Ahmadiyyah. Mulai dari alasan konstitusi, HAM, hingga beberapa ayat yang dipelintir untuk melegitmasi sikap mereka. Tak ayal, pembelaan mereka terhadap Ahmadiyyah kian menyingkap jati diri mereka. Selain anti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ponsen.wordpress.com&amp;blog=3860865&amp;post=12&amp;subd=ponsen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;text-align:justify;"><span lang="IN">Di tengah santernya tuntutan umat Islam terhadap pemerintah untuk membubarkan Ahmadiyyah, kaum Liberal makin lantang membela keberadaan aliran sesat itu. Dengan berbagai dalih, mereka menolak tuntutan pembubaran Ahmadiyyah. Mulai dari alasan konstitusi, HAM, hingga beberapa ayat yang dipelintir untuk melegitmasi sikap mereka. Tak ayal, pembelaan mereka terhadap Ahmadiyyah kian menyingkap jati diri mereka. Selain anti terhadap penerapan syariah, mereka juga pembela ajaran sesat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;text-align:justify;"><span lang="IN">Memang mereka mengaku tidak setuju terhadap theologi Ahmadiyyah. Namun lantangnya pembelaan dan dukungan mereka terhadap Ahmadiyyah telah menjerumuskan mereka ke dalam dosa. Pasalnya, hukum syara; tidak hanya melarang tindakan zhalim, namun juga orang yang cenderung terhadapnya. Allah Swt berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;text-align:justify;"><span class="gen"><em><span lang="IN">Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan </span></em></span><span class="gen"><span lang="IN">(</span></span><span lang="IN">QS Hud<span> </span>[11]: 112-113)<span class="gen">.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;text-align:justify;"><span lang="IN">Secara bahasa, <em>al-zhulm </em>berarti meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Dalam perkembangan berikutnya, kata <em>al-zhulm</em> digunakan untuk menunjukkan setiap perbuatan yang menyimpang dari ketetapan <em>dînuLlâh</em>. Menurut Ibnu Abbas, sebagaimana dikutip al-Thabari dalam <em>Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân</em>, perbuatan zhalim yang tidak boleh diridhai itu adalah syirik. Sedangkan al-Syaukani dalam <em>Fat<span style="text-decoration:underline;">h</span> al-Qadîr </em>menegaskan bahwa perbuatan itu tidak hanya berlaku untuk kaum Musyrik, namun berlaku umum. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam ayat ini ditegaskan, kaum Mukmin dilarang merasa ridha dan cenderung terhadap pelaku semua jenis kezhaliman itu. Menurut Abu al-Aliyah, makna kata <em>al-rukûn </em>adalah ridha. Artinya ridha terhadap perbuatan orang-orang zhalim. Ibnu Abbas memaknainya <em>al-mayl</em> (cenderung)<span class="gen">. Demikian keterangan al-Thabari </span>dalam <em>Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân. </em>Sedangkan al-Zamakhsyari dalam tafsirnya <em>al-Kasysyâf</em>, menegaskan bahwa <em>al-rukûn </em>tak sekadar <em>al-mayl, </em>namun <em>al-mayl al-yasîr </em>(kecenderungan ringan). Ini berarti setiap Muslim wajib membebaskan dirinya dari kezahliman. Bukan hanya dalam praktik, namun sekadar kecenderungan sedikit saja sudah tidak diperbolehkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;text-align:justify;"><span lang="IN">Ungkapan <em>al-ladzîna zhalamû</em> kian mengukuhkan ketentuan tersebut. Sebab, ungkapan <em>al-ladzîna zhalamû</em> lebih ringan daripada <em>al-zhâlimîn. </em>Sehingga, jika kepada orang yang berbuat zhalim saja sudah dilarang cenderung kepadanya apalagi kepada orang-orang yang sudah terkatagori zhalim. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;text-align:justify;"><span lang="IN">Para mufassir terkemuka, seperti Ibnu Jarir al-Thabari, al-Qurthubi, al-Zamakshsyari, al-Razi, Ibnu Katsir, al-Baghawi, al-Syaukani, al-Baidhawi, dan al-Khazin dalam kitab tafsir mereka, menyebutkan bahwa orang-orang yang berdusta dengan mengaku sebagai nabi dan rasul adalah yang dimaksudkan ayat ini. Beberapa nama pun disebutkan sebagai contohnya, seperti Musailamah dan al-Aswad al-‘Anasi. Semuanya mengaku sebagai nabi. Dengan demikian Ghulam Ahmad yang mengaku sebagai nabi dan mendirikan ajaran Ahmadiyyah bisa dimasukkan di dalamnya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;text-align:justify;"><span lang="IN">Berkaitan dengan makna <em>al-rukûn ilâ al-ladzîna âmânû, </em>al-Zamakhsyari memaparkan beberapa perbuatan yang dapat dikatagorikan di dalamnya. Di antaranya adalah tunduk kepada hawa nafsu mereka, bersahabat dengan mereka, bermajelis dengan mereka, mengunjungi mereka, bermuka manis dengan mereka, ridha terhadap perbuatan mereka, menyerupai mereka, dan menyebut keagungan mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;text-align:justify;"><span lang="IN">Menurut al-Qurthubi dalam <em>al-Jâmi’ li A<span style="text-decoration:underline;">h</span>kâm al-Qur’ân, </em>larangan ini juga sejalan dengan firman Allah Swt: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;text-align:justify;"><span class="gen"><em><span lang="IN">Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu] </span></em></span><span class="gen"><span lang="IN">(QS al-An’am [6]: 68) </span></span><span lang="IN"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;text-align:justify;"><span lang="IN">Larangan cenderung kepada pelaku kezhaliman itu sampai batas haram. Sebab, orang yang mengerjakannya diancam dengan sanksi yang amat berat, neraka. Allah Swt berfirman: <em>fatamassakum al-nâr</em> (<span class="gen">menyebabkan kamu disentuh api neraka)</span>. Tak hanya itu, mereka diancam tidak akan mendapat penolong. Allah Swt berfirman: <em>wamâlakum min dûniLlâh min awliyâ’ tsumma lâ tunsharûn</em> (<span class="gen">dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan</span>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;text-align:justify;"><span lang="IN">Patut digarisbawahi, Ghulam Ahmad beserta pengikutnya bukan hanya sekadar zhalim, namun terkatagori orang yang paling zhalim. Sebab, dia telah berbohong atas nama Allah Swt bahwa telah mendapat mendapatkan wahyu dari-Nya. Tak hanya itu, Allah Swt pun mengancamnya dengan siksa yang pedih dan menghinakan sebagaimana firman-Nya: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;text-align:justify;"><span class="gen"><em><span lang="IN">Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.” Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” Di hari ini kamu <span> </span>dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya</span></em></span><span class="gen"><span lang="IN"> (QS al-An’am [6]: 93).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;text-align:justify;"><span lang="IN">Makna ayat ini –sebagaimana dijelaskan Ibnu Katsir dan al-Sa’di dalam kitab tafsir mereka– tidak ada seorang pun yang lebih zhalim melebihi orang-orang yang membuat kedustaan atas nama Allah Swt, dengan menjadikan sekutu atau anak bagi-Nya, dan mengaku bahwa Allah Swt mengutusnya sebagai rasul padahal faktanya tidak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;text-align:justify;"><span lang="IN">Selain Ibnu Katsir, banyak mufassir lain seperti al-Thabari, al-Qurthubi, al-Zamakshsyari, al-Razi, al-Baghawi, al-Syaukani, al-Baidhawi, al-Khazin, dan lain-lain menyebutkan bahwa orang-orang yang berdusta dengan mengaku sebagai nabi dan rasul adalah yang dimaksudkan ayat ini. Beberapa nama pun disebutkan sebagai contohnya, seperti Musailamah dan al-Aswad al-‘Anasi. Semuanya mengaku sebagai nabi. Dengan demikian Ghulam Ahmad yang mengaku sebagai nabi dan mendirikan ajaran Ahmadiyyah bisa dimasukkan di dalamnya.<span> </span>Kedustaan Ghulam Ahmad telah nyata. Agen Inggris itu mengaku menerima suara dari langit pada bulan Maret 1882 yang menyatakan diangkatnya Mirza Ghulam sebagai “Ma’mur Minallah” atau “Utusan Allah” dan mengklaimkan diri pula sebagai seorang Mujaddid (pembaharu agama). Pada awal tahun 1891 Mirza Ghulam Ahmad mendakwakan bahwa dirinya telah diangkat oleh Allah Swt sebagai Imam Mahdi dan Masih Mau’ud atau Isa yang dijanjikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;text-align:justify;"><span style="color:black;">Selain itu, dia juga mengaku menerima wahyu, yang disebut dengan <em>Tadzkirah</em>. Isinya banyak yang membajak membajak ayat Al-Qur’an. Juga mencampur-adukkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan bahasa Arab, bahasa Urdu, dan bahasa Persia. Dengan wahyu rekayasa inilah Mirza Ghulam Ahmad membentuk aliran sesat Ahmadiyyah dengan suatu keyakinan Jama’at Ahmadiyyah itu identik dengan perahu nabi Nuh as. Menurut Mirza, barang siapa yang tidak mau masuk dalam Jama’at Ahmadiyyah sama saja dengan orang yang tidak mau naik (masuk) dalam perahu nabi Nuh Nuh dan akan tenggelam semuanya yaitu akan masuk neraka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;text-align:justify;line-height:15.6pt;"><span style="color:black;">Tak cukup mengaku sebagai nabi, Ghulam Ahmad juga mengaku sebagai orang yang paling utama dari dari seluruh nabi dan rasul. </span><span lang="IN">Ia mengatakan, “<em>Sesungguhnya Nabi (Muhammad) mempunyai tiga ribu mukjizat saja. “Sedangkan aku memiliki mukzijat lebih dari satu juta jenis”</em> [Tadzkirah Asy-Syahadatain, hal. 72, karya Ghulam Ahmad].</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;text-align:justify;line-height:15.6pt;"><span lang="IN">Salah seorang juru dakwah mereka, juga tidak ketinggalan ikut membeo merendahkan martabat Nabi Muhammad saw dengan mengatakan: <em>“Sesungguhnya Muhammad pernah sekali datang kepada kami. <span> </span>Pada waktu itu, beliau lebih agung dari bi’tsah yang pertama. <span> </span>Siapa saja yang ingin melihat Muhammad dengan potretnya yang sempurna, hendaknya ia memandang Ghulam Ahmad di Qadian”</em> [Koran milik Qadiyaniah, Badr, 25 Oktober 1902M].</span></p>
<p><span lang="IN">Kesesatan Ahmadiyyah telah nyata laksana terangnya matahari di siang bolong. Maka, jelaslah bahwa sikap kaum Liberal yang membela Ahmadiyyah merupakan perbuatan terlarang dan pelakunya diancam dengan siksa yang pedih. Tidak layak bagi seorang yang mengaku Mukmin berlaku demikian. </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ponsen.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ponsen.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ponsen.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ponsen.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ponsen.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ponsen.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ponsen.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ponsen.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ponsen.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ponsen.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ponsen.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ponsen.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ponsen.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ponsen.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ponsen.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ponsen.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ponsen.wordpress.com&amp;blog=3860865&amp;post=12&amp;subd=ponsen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ponsen.wordpress.com/2008/08/06/peringatan-al-qur%e2%80%99an-bagi-pembela-ahmadiyyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8164540978ecefa6f10714eb8e81d26e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ponsensindu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Untuk Apa Saya Hidup Di Dunia ?</title>
		<link>http://ponsen.wordpress.com/2008/07/22/untuk-apa-saya-hidup-di-dunia/</link>
		<comments>http://ponsen.wordpress.com/2008/07/22/untuk-apa-saya-hidup-di-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 17:56:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ponsensindu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ponsen.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[” Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku..” (QS Adzdzariyat :56) Pertanyaan penting yang kedua adalah untuk apa hidup. Mencari arti hidup adalah sangat penting. Siapapun yang tidak memiliki misi hidup, hidupnya akan terombang-ambing, tidak jelas, dan dipastikan tidak berarti. Hanya mereka yang memiliki misi hiduplah yang akan berarti dalam hidup, berarti buat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ponsen.wordpress.com&amp;blog=3860865&amp;post=7&amp;subd=ponsen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">” Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku..” </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">(QS Adzdzariyat :56)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Pertanyaan penting yang kedua adalah untuk apa hidup. Mencari arti hidup adalah sangat penting. Siapapun yang tidak memiliki misi hidup, hidupnya akan terombang-ambing, tidak jelas, dan dipastikan tidak berarti. Hanya mereka yang memiliki misi hiduplah yang akan berarti dalam hidup, berarti buat dirinya , juga buat orang lain. Manusia tanpa misi bagaikan hewan , yang hanya hidup , karenya nyawanya ada. Hidup hewan tidak lebih berputar sekitar lahir, makan, cari makan, seksual, melahirkan anak, buang air ….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Manusia yang hidup tanpa<span> </span>misi bagaikan hewan. Inilah yang disindir oleh Allah SWT dalam Al Qur’an, mereka disebut bagaikan hewan , bahkan lebih dari hewan. Ciri mereka : tidak mau berpikir, meskipun sudah diberikan akal (qolbu). Tidak mau menggunakan mata untuk melihat kebenaran. Telinga seakan ditutup tidak mau mendengar kebenaran. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Persoalannya bagaimana cara manusia mencari misi hidupnya. Logikanya, yang paling tahu untuk apa kita hidup , tentu saja yang menciptakan kita, Allah swt. Allah-lah yang Maha Tahu, paling mengerti untuk apa kita hidup, untuk apa Dia menciptakan kita. Adalah sangat logis kalau kita mencari arti hidup dengan melihat firman Allah SWT di Al Qur’an. Dengan sangat jelas, Allah swt menyebutkan misi hidup utama kita adalah beribadah. Firman Allah swt : “” Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku..” (QS Adzdzariyat :56)”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ibnu Abbas menafsirkan ayat di atas dengan: agar mereka (jin dan manusia) menetapi ibadah kepada-Ku. Ibn al-Jauzi menafsirkan ayat di atas dengan: agar mereka tunduk dan merendahkan diri kepada-Ku. (Zâd al-Masîr, 8/43). Maksud ayat di atas adalah agar mereka menjadi hamba Allah, melaksanakan hukum-Nya, dan patuh pada apa yang ditetapkan Allah kepada mereka (Ibn Hazm, Al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwâ’ wa an-Nihal, 3/80). Inilah hakikat ibadah. Ibadah tidak lain adalah mengikuti dan patuh, diambil dari al-‘ubûdiyyah; seseorang hanya menyembah Zat Yang ia patuhi dan Yang dia ikuti perintah (ketentuan)-Nya (Ibn Hazm, al-Ihkâm fî Ushûl al-Ahkâm, 1/90).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ringkasnya, makna ibadah adalah tunduk dan patuh kepada hukum-Nya. Inilah ibadah dalam pengertian yang luas, yakni taat kepada kepada seluruh aturan Allah swt. Taat kepada Allah artinya tunduk kepada seluruh aturannya. Mulai dari ibadah mahdoh seperti sholat, zakat, puasa, haji. Termasuk juga aspek mu’amalah seperti ekonomi, politik, keluarga, pendidikan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Makna Ibadah diatas juga berarti merupakan penolakan terhadap seluruh aturan yang bukan berasal dari Allah SWT. Sebab, beribadah semata-mata kepada Allah SWT, artinya semata-mata diatur oleh hukum Allah SWT. Menjadikan hukum selain Allah sebagai hukum, berarti bermakna menyembah selain kepada Allah SWT. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dengan demikian manusia yang punya misi hidup untuk beribadah, bukan hanya mengikuti Allah swt di masjid, di sajadah, di Baitul haram saat berhaji. Tapi juga saat di kantor, di kursi parlemen, di meja pengadilan. Orang punya misi ibadah karenanya tidak hanya rajin ibadah tapi juga tidak korupsi, tidak membuat kebijakan yang mensengsarakan rakyat. Dia bukan hanya melempar setan pada saat jumroh di Tanah Haram, tapi juga memusuhi setan di tanah air. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Misi hidup inilah yang nanti akan dituntut pertanggungjawabannya oleh Allah swt. Layaknya seorang presiden yang diberikan mandat oleh parlemen, setelah tugas selesai, yang memberikan mandat akan bertanyak kepada sang Presiden, sejauh mana dia telah melaksanakan mandat itu. Nasib presiden pun ditentukan apakah dia bisa bertanggungjawab atau tidak. Dengan<span> </span>‘ibadah’ ini nanti juga akan menentukan nasib kita di Yaumil Akhir, meraih surga atau dicampakkan Allah Swt di neraka jahannam yang keras. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Misi hidup untuk beribadah inilah yang akan menghantarkan dia pada ultimate goal seorang muslim yakni meraih ridho Allah swt.<span> </span>Kerinduan puncak seorang muslim, saat Kekasih Tercintanya memanggil dengan penuh ridho, sementara diapun ridho kepada Allah swt.: Firman Allah SWT :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">” Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jam’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku” ( QS Al Fajr : 27-30) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;direction:ltr;unicode-bidi:embed;" dir="ltr"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tanbihul Ghofilin </span></strong></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> Imam Bukhori Muslim meriwayatkan dari Anas ra. Dari Rosulullah Saw. bahwa beliau pernah bersabda : ” Jenazah itu akan diikuti oleh tiga perkara, yakni keluarga,harta, dan amalnya. Yang dua perkara itu akan pulang, sedang yang akan tetap menemaninya hanya satu perkara. Keluarga dan hartanya akan pulang, sedangkan yang akan tetap menemaninya hanyalah amalnya,”</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ponsen.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ponsen.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ponsen.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ponsen.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ponsen.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ponsen.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ponsen.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ponsen.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ponsen.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ponsen.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ponsen.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ponsen.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ponsen.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ponsen.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ponsen.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ponsen.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ponsen.wordpress.com&amp;blog=3860865&amp;post=7&amp;subd=ponsen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ponsen.wordpress.com/2008/07/22/untuk-apa-saya-hidup-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8164540978ecefa6f10714eb8e81d26e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ponsensindu</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
